Assalamualaikum
WR. WB. Selamat siang yang panas dan cerah ini... semangat ya kawan
Ini Aku Dila Oktaviani sang pemimpi dengan kekuatan Lilah...
Pernah rasanya aku bermimpi tentang sesuatu hal yang
sebenarnya akupun tidak terlalu percaya dengan hal itu tapi kemudian Allah
MENJAWABNYA dengan cara yang berbeda dibandingkan hayalanku. Ya benar hayalan
tingkat tinggi yang pernah orang lain bilang padaku bahwa “ JANGAN TERLALU
TINGGI KAMU BERMIMPI NANTI KALAU KAMU TERJATUH AKAN SANGAT SAKIT “, so.. aku
katakan “ BIARLAH... TINGGINYA KAU BERMIMPI ITU MEMBUATKU LEBIH KUAT.. MESKIPUN
AKU TERJATUH AKU TIDAK AKAN TERJATUH KEDASAR NAMUN, AKU TERJATUH DIANTARA
BINTANG – BINTANG YANG INDAH KARENA ALLAH TIDAK AKAN MEMBUATKU TERJATUH BEGITU
JAUH KE DASAR JURANG”
YA... tiba – tiba ini
terjadi temanya ku buat “ Kampung Misteri yang
Mengagumkan “
A. Hasil Observasi “ Kampung Naga “
Hari
selasa, 24 Maret 2018 sampai di tempat kira – kira pukul 09.00 WIB – Tasik
Malaya
Dengan
jas Kuning
1. Latar Belakang
Budaya
sering dijadikan perdebatan dalam kehidupan di masyarakat. Budaya yang disebut
– sebut akar dari peradaban ini begitu menyatu dalam balutan adat istiadat.
Terutama akar budaya yang di pegang teguh oleh masyarakat Kampung Naga. Dalam
observasi kali ini tepatnya berada di Kampung Naga Desa Neglasari Kec. Salawa
Kab. Tasik Malaya. Di desa ini terdapat dua kampung Naga Asli yang
mempertahankan adat istiadatnya dan kampung di luar Kampung Naga yang disebut
Kampung Sanaga. Kampung Naga dalam ini hanya sekitar 1
ha, dan di huni sekitar 112 hunian, 101 kepala
keluarga dan 293 jiwa saja. Kampung Naga ini terletak diantara barisan bukit-
bukit yang mengelilingi dan di sebrang sungai. Pemangku adat atau Kuncen
tersebut mengatakan menurut sejarah Kampung Naga ini pernah habis dan lenyap di
lalap api ketika munculnya DITII yang berusaha menguasai daerah Kampung Naga
ini, dahulu Kampung Naga ini ada di bagian sebelah Utara dan Selatan dekat
sungai dan gunung galunggung namun semua masyarakat Kampung Naga menolak DITII,
akhirnya derah Kampung Naga dibumi hanguskan dan tanpa sisa arsip sejarah asli
Kampung Naga hilang.
2. Sistem Peralatan Dan Teknologi Masyarakat Kampung Naga
Sistem
teknologi masyarakat kampung naga ini, memang tidak serta merta menolak
kemajuan teknolgi dunia luar namun masyarakat kampung naga ini sangat
mengutamakan akar adat istiadat yang mereka pegang selama ini. Menurut Pemangku
adat atau Kuncen di Kampun Naga mengatakan bahwa masyarakat tetap menerima
moderenisasi namun mereka didak memasukan unsur tersebut kedalam kampung naga,
melainkan menerimanya hanya sebatas di luar kampung yaitu di desa sanaga di
atas lembah. Teknologi sepeti televisi dan radio masih bisa masuk aksesnya
hanya saja terbatas. Peralatan yang di gunakan juga peralan yang tradisional
menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu. Penanak nasi, gelas dan sendok
masih di buat dengan kayu dari bahan kayu utan ataupun bambu.
3. Sistem sosial, ekonomi dan budaya
Sistem
Sosial, Ekonomi dan Budaya masyarakat Kampung Naga dilandaskan pada akar budaya
yang begitu mereka percayai. Mereka sangat berpegang teguh pada budaya yang
tercipta di negeri tercinta ini karena dalam pemikiran mereka tertanam bahwa
budaya adalah tuntunan bukan merupakan tontonan. Mungkin di benak manusia di
zaman modern ini telah lebih dulu tertanam konsep yang salah, bagi manusia
modern budaya berkonsepsi sebagai tontonan belaka. Budaya memang begitu
tertinggal jauh bahkan di sebut kuno atau ketinggalan zaman. Namun bagi
masyarakat Kampung Naga mereka lebih senang di anggap kuno atau ketinggalan
zaman dibandigkan harus menjadi bentukan zaman yang tidak punya akar yang kuat
untuk menopang kehidupan dunia. Seseorang yang tercipta dengan budaya yang apik
akan membentuk jati diri seseorang sebagai khasnya. Begitu pula dengan budaya
yang di tanamkan di kampung naga ini. Kampung yang berada di pinggir sungai dan
di kelilingi tebing – tebing juga pesawahan ini membuat adat istiadat di
kampung kecil ini begitu indah dan unik.
a. Sistem Budaya
Budaya
di Kampung Naga ini menjadi sangat terlihat berbeda ketika dibandingkan dengan
kampung lainnya. Ciri khas budaya di Kampung Naga ini mulai dari atap yang
terbuat dari dedaunan dan injuk yang di susun sedemikian rupa agar tidak tembus
oleh air hujan, dindingpun terbuat dari bilik bambu dan semua poros bangunan
menggunakan bahan – bahan dari alam batu sebagai pondasi rumah yang di
berdirikan kira – kira ketinggiannya 50 cm dari atas permukaan tanah. Bangunan
mereka tidak dilengkapi dengan perabotan rumah tangga yang mewah, di dalamnya
hanya kosong dan tergeletak sebuah alas saja untuk tidur. Posisi bangunan di
lihat dari arsitekturnya di buat berhadapan menandakan sikap kekeluargaan dan
gotong royong mereka sangat kental. Ketika akan membangun sebuah hunian baru
atau perbaikan mereka bekerjasama anatar warga untuk mendirikannya kembali.
Dapur sederhana untuk memasak dibuat tanpa mengunakan peralatan moderen seperti
gas subsidi dari pemerintah, namun mengunakan tungku perapian sebagai tempat
untuk memasak. di bagian luar rumah mereka antara rumah dan batasan luar rumah
warga hanya di batasi oleh pagar bambu yang mereka buat. Pagar bambu itu juga di
jadikan batas antara sebuah “Tempat Keramat / Patilasan “yang terdapat di
Kampung Naga tersebut, yaitu :
1)
Pangsolatan : Menurut warga setempat/ pemandu tempat
ini adalah bekas sesepuh Kampung Naga
yang dahulunya pertama kali melakukan solat di tempat itu.
2)
Lumbung : Lumbung ini adalah tempat penyimpanan
padi atau cadangan hasil panen masyarakat Kampung Naga.
3) Bumi Ageung : Ditempat ini semua masyarakat Kampung Naga
dilarang memasuki tempat tersebut kecuali ketika adanya sacara Hajat Sasih dan
itupun hanya orang tertentu yang di perbolehkan masuk.
Kampung Naga ini penuh
dengan larangan namun tidak mempersulit hal tersebut cukup dengan kata Pamali
“ jangan “. Di desa Kampung Naga ini
juga ada 6 perayaan besar yang sering di
lakukan di Kampung Naga dengan nama Hajat Sasih. Dilaksanakannya hajat sasih
ini; saat bulan Muharam, bulan Maulid, Tahun Baru Hijriah, Nisfu sa’ban, Idul
Fitri, dan Idul Adha. Acara tersebut biasanya dilakukan dengan berjiarah ke makam leluhur yang di lakukan
oleh kaum lelaki dan membuat tumpeng atau makanan bagi kaum perempuan serta doa
bersama di Masjid.
b.
Sistem Sosial
Masyarakat kampung naga sistem sosialnya kekeluargaan dan
ketika ada acara besar mereka turut dalam acara tersebut. Cirinya bisa dilihat
dari bentuk bangunannya yang saling berhadapan. Masyarakat Kampung Naga ini di
kepalai oleh tokoh masyarakat yaitu Kuncen sebagai pemangku adat, Lebe sebagai
bidang keagamaan, dan Punduh sebagai bidang kemasyarakatan. Semua masyarakat
tunduk dan patuh kepada sesepuh Kampung Adat. Sistem dengan masyarakat luarpun
mereka menyambut dengan baik.
c.
Sistem Ekonomi
Sistem
perekonomian di masyarakat ini bermatapenceharian sebagai petani dan ada pula
masyarakat yang keluar dari kampung untuk meningkatkan kesejahteraannya. Lahan
pertanian mereka miliki sendiri dan hasilnya untuk mereka sendiri dan simpanan
Kampung yang di simpan di lumbung untuk persediaan 1 atau 2 bulan. Merekalah
yang mengelola sendiri hasil pertaniannya. Padi yang di hasilkannya di proses
secara teradisional dengan cara di tumbuk untuk mengelupaskan kulit padinya dan
di jemur terlebih dahulu dengan bantuan cahaya sinar matahari.Namun saat
kembali ke desa dengan syarat mereka harus melepaskan atribut yang mereka bawa
dari luar dan menjadi masyarakat biasa. Ada pula tambahan mata penceharian
mereka sebagai pengrajin karya seni khas Kampung Naga.
Pengalaman ini semoga dapat membuat tambahan ilmu untuk kalian semua hee.. bolehlah semua teman - teman semoga mendapat kebaikan ya aamiin..
oke.. terima kasih kepada semua teman - temanku semua yang mau mampir ke blog aku yang masih minim ilmunya hee... tapi komentar ya agar saya bisa lebih baik lagi... etss... no COPAS ya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bijaklah dalam berkomentar..
berkomentarlah dengan baik dan membangun